Cerita ini hanyalah sebuah tulisan amatir dari seorang mahasiswi yang baru belajar menulis. Sekaligus juga merupakan refleksi dari rasa stress yang tengah memuncak dalam menghadapi ketidakjelasan pada sebuah sistem. Teriakan hati yang diharapkan dapat menjadi sebuah pelajaran sekaligus sebuah kenangan indah selama masa-masa preklinik.
Hari ini bisa dikatakan sebagai hari yang bersejarah dan LUAR BIASA bagi sebagian orang di program studiku, terutama bagi angkatanku. Sebuah “ketidakbiasaan” telah terjadi dalam prosesi ujian MCQ yang tengah kami hadapi. Awalnya, ujian ini sempat menjadi “momok” bagi kami semua (teman-teman seangkatanku, terutama aku). Kebingungan demi kebingungan, ketidakjelasan demi ketidakjelasan, dan kesulitan demi kesulitan ku hadapi untuk mempersiapkan diri. Dengan bermodalkan total 21 judul kuliah (klo gak salah) yang super sulit dicerna dan diresapi dengan nalar serta 4 buntel “warisan” dari” para tetua”, aku berjuang untuk memahami makna tiap pelajaran yang sudah diberi oleh para dosen. Walhasil, pagi ini dengan menyisakan kurang lebih 8 judul slide, aku berangkat ke kampus dengan penuh senyum dan tanpa beban (hal yang cukup aneh buatku). Dengan ringannya ku melangkah menapaki satu hal baru yaitu pergi ke kampus bukit (ini pertama kalinya ujian MCQ dilakukan di bukit untuk 2 kelas sekaligus, reguler dan non reguler digabung). Sesampainya di kampus suasana terasa berbeda, namun aura ujian mulai tampak ketika itu. Setelah kurang lebih 1 jam menanti (waktu yang cukup panjang untuk bersenda gurau bersama teman-teman) akhirnya ujian dimulai. Awalnya, diberitahukan kepada setiap mahasiswa untuk mengumpulkan seluruh tas dan handphone ke depan, aku dan teman-teman pun melakukannya. Tidak lama kemudian seorang dosen masuk ke kelas dan mengumumkan sebuah hal yang benar-benar diLUAR keBIASAan, namun aku dan teman-teman menyukainya. Ketika itu sang dosen berkata “…………….dalam ujian ini diperbolehkan memakai kalkulator, namun jangan memakai kalkulator yang scientific”. Seluruh mahasiswa pun tampak cemas karena mayoritas yang membawa kalkulator saat itu adalah yang scientific. Namun selanjutnya sang dosen berkata kembali “bila tidak mempunyai kalkulator biasa, maka boleh memakai Hp untuk menghitung. Tapi dilarang memakai Hp untuk menelpon teman…………….” Serentak secercah senyum menghiasi hampir seluruh wajah mahasiswa, para mahasiswa yang tadinya sudah mengumpulkan Hp-nya pun mengambil kembali Hp mereka untuk menggantikan kalkulator scientific yang mereka bawa. Sebuah keanehan yang benar-benar diLUAR keBIASAan.
Tak lama, soal pun dibagikan. Aku sempat gemetar tatkala menerima soal tersebut, wajar saja untuk ujian kali ini persiapanku bisa dikatakan amat sangat minimal. Ketika mataku terpaku pada sebuah tulisan kecil dengan huruf balok yang berbunyi “SESI 1” rasa lemas langsung menghampiriku. “Gosh…ini baru sesi pertama, berarti akan ada sesi ke dua, gimana nih? Sesi pertama yang 100 soal ini aja belom tentu aku sanggup. Hhhhhh…” batinku saat itu. Dengan tertatih-tatih dan perlahan-lahan, satu demi satu soal berhasil ku jawab. Ketika itu idealismeku masih tak tergoyahkan, walaupun ada sangat banyak soal yang ku akui kujawab dengan asal-asalan, tak sedikitpun aku tergoda. Akhirnya, waktu pun habis, soal dan jawaban dikumpul, lalu diberitahukanlah bahwa ada istirahat sejenak untuk kemudian disambung dengan sesi kedua. Aku lemas, tambah lemas lagi ketika tahu ternyata ada beberapa teman yang mendapat “wejangan” yang serupa. “oohhhh….. tapi sudahlah, yang penting semua sudah berlalu, sekarang fokus untuk sesi ke dua” batinku. Ditengah rasa lelah, kecewa, dan resah itu, seorang teman berkata bahwa akan ada soal esai di sesi ke dua ini. Terang saja aku tambah panik, jujur aku tak siap bila harus ada soal esai. Apalagi bila melihat soal di sesi pertama, dimana biostatistika sama sekali belum keluar, otomatis pelajaran itu akan ke luar di sesi kedua, astaghfirullah tambah ingin pingsan saja rasanya.
Sesi ke dua pun dimulai. Benar saja tebakanku, sesi kedua dengan jumlah soal 90 soal ternyata ± 50%nya adalah soal-soal statistik. “ohhhhhhh…..” lagi-lagi aku mengeluh. 20 soal pertama kulewatkan begitu saja, karena rata-rata soal tersebut belum pernah diajarkan. Barulah dipertengahan soal ada sekitar 20 soal yang mampu kuselesaikan dengan bantuan “wasiat” dari para “tetua”. Awalnya aku tenang karena mengira bahwa tidak ada soal esai, namun kemudian barulah kuketahui ternyata 2 lembar terakhir adalah soal esai yang musti kami kerjakan, satu lagi “ketidakbiasaan” pada ujian kali ini. 15 menit menjelang berakhirnya waktu akhirnya aku menyerah “I break the rule” ohhhhh…tidakkk sebuah kenyataan pahit yang harus kutelan bulat-bulat. Hanya demi 2 soal terakhir yang berbentuk esai and then I break the rule, what ashame. Tapi harus bisa kupastikan bahwa ini yang terakhir! Lalu, 5 menit sebelum waktu habis, baru kusadari ternyata banyak soal yang belum kuisi, baru sekitar 20% yang berhasil kukerjakan ketika itu, ingin rasanya bertanya, tapi aku tahu teman-temanku pun pasti tak ada yang tahu. 5 menit itu pun kuhabiskan dengan diam tanpa kata. Barulah ketika pengawas mengatakan “waktu habis” aku pun bergegas mencontreng acak jawaban untuk tiap nomor yang belum ku kerjakan. Ooooohhhhhhh….. sungguh memalukan dan memilukan. Di sinilah cerita ini berakhir dengan membawa rasa malu, kecewa, dan sesal di dalamnya.
*sebuah pelajaran berharga untuk hari ini:
“kejahatan terjadi bukan hanya karena adanya niat dari pelaku tetapi juga karena ada kesempatan untuk melakukannya”
Sekali lagi, ini hanyalah sebuah tulisan mengenai kecerobohan seorang mahasiswi yang tertekan oleh ketidakjelasan sebuah sistem. Sebuah tulisan yang diharapkan dapat menjadi peringatan bagi penulis untuk bisa menjadi lebih baik dikemudian hari. Sebuah tulisan yang juga akan menjadi salah satu kisah indah dalam kenangan selama masa preklinik bagi penulis. Serta tulisan ini juga merupakan ajang berlatih bagi penulis untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan. =>









Recent Comment